SEJARAH
PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI AMERIKA DAN DI INDONESIA
A. Sejarah Bimbingan dan Konseling di
Amerika
Bimbingan dan Konseling sebagai profesi
pertama kali lahir di Amerika pada awal abad XX, yaitu
ketika Frank Person membuka klinik di Boston untuk memberi pengarahan kepada
para pemuda memperoleh pekerjaan yang sesuai. Pada tahun 1950an bidang ini
mengalami perkembangan yang sangat pesat, bukan hanya dalam bidang pekerjaan
tetapi merambah pada bidang-bidang pendidikan.
Dari segi wilayah
geografi, bimbingan dan konseling tidak lagi terbatas hanya di Amerika,
tetapi berkembangan menjalar ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan dan
Australia. Tahun 1970-1980 bimbingan dan konseling masuk ke dalam kurikulum
Sekolah Menengah di negeri-negeri yang mengambil sistem pendidikan Barat.
Munculnya Bimbingan dan Konseling di
Amerika pada awal abad XX merupakan tuntunan logis dari dinamika masyarakat
Amerika ketika itu. Sebagaimana diketahui bahwa pandangan hidup masyarakat
Amerika dan Barat pada umumnya bersumber dari budayanya yang sekuler dan
liberal. Oleh karena itu filosofi dari bimbingan dan konseling di sana juga tak
terlepas dari faham sekuler dan liberal.
Meskipun konsepsi bimbingan dan konseling
di Barat dilahirkan oleh para ahli yang tidak diragukan kapasitasnya, tetapi
konsep-konsep yang boleh jadi cocok untuk masyarakat Barat tidak otomatis dapat
diterapkan pada masyarakat lain, masyarakat Islam misalnya. Kesulitan
menerapkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling Barat di lingkungan
masyarakat Islam disebabkan oleh falsafah hidup yang berbeda, antara lain:
1.
Jika masyarakat Barat memisahkan Negara
dan agama, masyarakat Islam tidak mengenal pemisahan yang sebenarnya antara
agama dan kehidupan, antara masjid dan lapangan kerja. Bimbingan dan Konseling
di masyarakat Islam harus berdiri diatas prinsip keterpaduan antara agama dan
kehidupan duniawi.
2.
Masyarakat Barat menganut kebebasan
individual dan kelompok yang sangat liberal, tercermin pada pergaulan
bebas, norma seksual yang sangat longgar asal tidak mengganggu orang
lain, sementara masyarakat muslim sangat menjunjung tinggi kesucian perkawinan,
kehormatan wanita, berbakti kepada orang tua yang sudah renta, dan mengagungkan
nila-nilai akhlak, iman dan takwa. Masyarakat Islam tidak mengenal kebebasan
individual dalam arti sebebas-bebasnya, karena dibatasi oleh norma-norma
tradisi, agama dan akhlak. Masyarakat muslim masih menjunjung tinggi
prinsip-prinsip berbakti kepada orang tua, sopan santun sosial dan tradisi
keagamaan.
3.
Banyak hal-hal yang di Barat tidak
dipermasalahkan, tetapi pada masyarakat Islam justru hal itu diharamkan,
misalnya perjudian, perzinaan, gay, menyakiti orang tua, boy friend, tukar
kunci dan sebagainya.
4.
Pedekatan Bimbingan dan Konseling yang
dilakukan di Amerika sendiri menunjukan kegagalan.
Layanan bimbingan di Amerika Serikat
mulai diberikan oleh Jesse B. Davis pada sekitar tahun 1898-1907. Beliau
bekerja sebagai konselor sekolah menengah di Detroit. Dalam waktu sepuluh
tahun, ia membantu mengatasi masalah-masalah pendidikan, moral, dan jabatan
siswa. Pada tahun 1908, Frank Parsons mendirikan Vocational Bureau untuk
membantu para remaja memilih pekerjaan yang cocok bagi mereka. Tahun 1910,
William Healy mendirikan Juvenile Psychopathic Institut di
Chicago. Tahun 1911, Universitas Harvard memberikan kuliah bidang bimbingan
jabatan dengan dosennya Meyer Blomfield. Tahun 1912, Grand Rapids, Michigan
mendirikan lembaga bimbingan dalam sistem sekolahnya.
Tahun
1913 berdiri National Vocational Guidance di Grand Rapids.
Perkembangan bimbingan dan konseling di
Amerika Serikat sangat pesat pada awal tahun 1950. Hal ini ditandai dengan
berdirinya APGA (American Personal and Guidance Association) pada tahun
1952. Selanjutnya, pada bulan Juli 1983 APGA mengubah namnya menjadi AACD (American
Association for Counseling and
Development). Kemudian, satu organisasi lainnya
bergabung pula dengan AACD, yaitu Militery Education (MECA). Dengan demikian, pada saat ini AACD merupakan
organisasi profesional bagi para konselor di Amerika Serikat, dengan 14 divisi
(organisasi khusus) yang tergabung di dalmnya. Di samping itu, pada setiap
negara bagian atau wilayah tertentu terdapat semacam cabang dari masing-masing
organisasi tersebut.
Sebagai suatu organisasi profesi, AACD
ataupun organisasi-organisasi divisinya mengeluarkan jurnal-jurnal secara
berkala. Jurnal-jurnal tersebut di antarnya Journal of Counseling
and Development, Journal of College Student
Personnel, Counselor Education and Supervision,
dan The Career Development Quarterly.
B. Sejarah
perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Di
Indonesia, pelayanan konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami
beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan
Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan
dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan
di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia
sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum
1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan BK semakin
mantap pada tahun 2001.
Kegiatan layanan bimbingan dan konseling
di Indonesia lebih banyak dilakukan dalam kegiatan pendidikan formal di
sekolah. Pada awal tahun 1960 di beberapa sekolah dilaksanakan program
bimbingan yang terbatas pada bimbingan akademis. Pada tahun 1964, lahir
Kurikiulum SMA Gaya Baru, dengan keharusan melaksanakan program bimbingan dan
penyuluhan. Tetapi, program ini tidak berkembang karena kurang persiapan
prasyarat, terutama kurangnya tenaga pembimbing yang profesional. Untuk
mengatasi masalah tersebut, maka pada dasawarsa 60-an Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, dan diteruskan oleh Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(1963) membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan yang sekarang dikenal di
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan nama Jurusan Psikologi Pendidikan
dan Bimbingan (PPB).
Setelah dirintis dalam dekade 60-an,
bimbingan dicoba penataannya dalam dekade 70-an. Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan (PPSP) membawa harapan baru pada pelaksanaan bimbingan di sekolah
karena staf bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah
pembangunan. Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah
sejak diberlakukannya kurikulum 1975 yang menyatakan bahwa bimbingan dan
penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Pada tahun
1975 berdiri ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang. IPBI ini
memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah melalui penataan, dalam dekade
80an, bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Pemantapan terutama diusahakan
untuk mewujudkan layanan bimbingan yang profesional. Beberapa upaya dalam
pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan kurikulum dari
Kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984. Dalam kurikulum 1984, telah dimasukkan
bimbingan karier di dalmnya. Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan
dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam
Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi
peranannya pada masa yang akan datang.
Penataan bimbingan terus dilanjutkan
dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya. Dalam Pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun
program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan
bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam
program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi
perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Pemunculan nama ini
dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil
sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publik.
SUMBER
Djumhar
dan Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan
Penyuluhan di Sekolah (Guidance & Counseling). Bandung: CV Ilmu.
Shertzer,
B. & Stone, S.C. 1976. Fundamental of
Gudance. Boston: HMC
Prayitno
dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar
Bimbingan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Winkel,
W.S. 2005. Bimbingan dan Konseling di
Intitusi Pendidikan, Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia.



02.30
Unknown

0 komentar:
Posting Komentar